Arete: Definisi dan Jenis-Jenis Keutamaan
Selamat datang kembali dalam perjalanan kita mendalami Etika Kebajikan. Setelah sebelumnya kita menyepakati bahwa kebahagiaan yang bermakna atau Eudaimonia adalah tujuan akhir manusia, satu pertanyaan besar muncul: bagaimana cara kita mencapainya?
Dalam tradisi klasik, Aristoteles memberikan satu jawaban utama berupa kata Arete.
1. Memahami Konsep Keunggulan
Meski kata Arete sering diterjemahkan menjadi kebajikan, makna aslinya dalam budaya Yunani Kuno lebih mengarah pada keunggulan atau kesempurnaan fungsi. Ini bukan hanya perihal menjadi orang yang baik secara sempit. Menjadi versi terbaik dari diri sesuai dengan fungsi hakiki kita—inilah esensi dari Arete.
Bayangkan kamu memiliki sebuah pisau. Fungsi pisau tentu saja untuk memotong. Pisau tersebut memiliki Arete ketika ia benar-benar tajam, nyaman digenggam, serta sanggup memotong dengan sangat presisi. Sebaliknya, pisau yang tumpul telah kehilangan keutamaannya karena gagal menjalankan fungsinya.
Bagi manusia, Arete berarti keunggulan dalam memanfaatkan akal budi untuk mengarungi hidup. Karena kemampuan berpikir rasional adalah ciri khas manusia, Arete merupakan kualitas yang memampukan kita melakukan hal tersebut dengan luar biasa.
2. Pembagian Keutamaan
Aristoteles membagi Arete menjadi dua bidang besar. Pembagian ini didasarkan pada dua bagian jiwa manusia, yaitu bagian berpikir dan bagian merasa.
A. Kebajikan Intelektual
Bidang ini mengurusi kemampuan akal budi dalam mencari kebenaran. Kamu bisa memperolehnya lewat studi, pengajaran, dan pengalaman.
Kebijaksanaan teoretis (Sophia) membantumu menangkap prinsip dasar alam semesta dan hal abadi seperti matematika. Untuk keputusan dalam situasi konkret sehari-hari, kamu mengandalkan kebijaksanaan praktis atau Phronesis sebagai kompas moral. Sementara itu, Techne mengasah keterampilan teknis dan keahlian menciptakan sesuatu.
Pernahkah kamu bertemu seseorang yang sangat cerdas di bidang akademis tetapi sering mengambil jalan hidup yang berantakan? Fenomena tersebut membuktikan bahwa seseorang bisa memiliki Sophia yang tinggi tetapi sangat miskin Phronesis.
B. Kebajikan Moral
Berbeda dengan ranah intelektual, kebajikan moral menata karakter dan emosi kita ketika berhadapan dengan orang lain. Kamu tidak bisa mempelajari hal ini dari buku pelajaran saja. Kebajikan moral murni lahir dari pembiasaan.
Berani mengelola ketakutan saat bahaya datang, mengendalikan hawa nafsu secara proporsional, berlaku adil dalam memenuhi hak orang lain, hingga bermurah hati dalam memberi adalah wujud nyata kebajikan moral.
3. Hubungan Simbiotis Keduanya
Etika Kebajikan tidak membiarkan kedua jenis Arete ini berjalan sendiri-sendiri. Kebajikan moral akan memberimu dorongan yang tepat, seperti keinginan untuk selalu bersikap jujur. Namun, saat berada di tengah situasi rumit, kebijaksanaan praktislah yang akan memandu caramu menerapkan kejujuran tersebut agar tidak malah melukai orang lain tanpa alasan. Niat yang baik bisa mendatangkan bencana bila tidak diimbangi akal budi, dan sebaliknya, akal budi yang tajam sangat berbahaya bila dikendalikan oleh karakter yang korup.
4. Arete di Dunia Modern
Konsep ini sangat relevan untuk dibawa ke keseharian. Ambil contoh seorang pengembang perangkat lunak.
Ketika ia mampu menulis kode yang bersih, efisien, serta cepat beradaptasi dengan bahasa pemrograman terbaru, ia sedang mempraktikkan keunggulan intelektual. Namun keunggulannya tidak utuh sampai ia juga berani menolak perintah atasan yang melanggar privasi data pengguna, jujur saat melakukan kesalahan fatal, dan ringan tangan memandu junior yang kesulitan. Menguasai hal teknis namun berkarakter manipulatif jelas menggugurkan kualitas Arete dalam diri seseorang.
5. Ringkasan Visual
| Jenis Kebajikan | Fokus Utama | Cara Memperoleh | Contoh |
|---|---|---|---|
| Intelektual | Kebenaran & Rasio | Pengajaran & Studi | Matematika, Pengetahuan, Phronesis |
| Moral | Tindakan & Karakter | Latihan & Kebiasaan | Keberanian, Kejujuran, Keadilan |
Refleksi Untuk Kamu
“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang kali. Maka, keunggulan (Arete) bukanlah sebuah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan.” — Sering diatribusikan pada Aristoteles (Will Durant).
Coba renungkan satu bidang dalam hidup kamu saat ini. Mungkin itu pekerjaan, hobi, atau peran dalam keluarga. Temukan satu keunggulan intelektual yang perlu kamu kuasai dan satu keunggulan moral yang perlu kamu rutinkan agar Arete benar-benar hadir dalam hidupmu.
Catatan: Pembahasan mendalam mengenai proses membentuk karakter lewat kebiasaan-kebiasaan baik ini akan berlanjut di bab berikutnya tentang Habituasi.