Keyboard shortcuts

Press ← or → to navigate between chapters

Press S or / to search in the book

Press ? to show this help

Press Esc to hide this help

Pengantar: Uang dan Pertanyaan Tua tentang Kebahagiaan

Coba perhatikan pola yang berulang di sekitar kita. Ada orang yang rela lembur sampai larut malam, mengambil proyek ekstra, dan memangkas liburan, semuanya demi satu alasan yang ia ucapkan dengan lantang: supaya bahagia. Lalu suatu hari kamu bertanya, “berapa sih angka yang membuat kamu merasa cukup?” Jawabannya hampir selalu sama, dan biasanya diucapkan sambil tersenyum malu, “sedikit lagi.” Kalau gajinya naik dua juta, garis cukup itu pindah ke lima juta. Kalau lima juta tercapai, ia melirik teman satu kantornya yang baru dipromosikan, dan garisnya mundur lagi. Ia berlari mengejar uang demi bahagia, tapi garis finis yang ia kejar selalu mundur beberapa langkah tepat saat ia merasa sudah hampir sampai.

Inilah pertanyaan tua yang menjadi akar seluruh buku ini: apakah uang membeli kebahagiaan?

Pertanyaan “berapa yang cukup” itu ibarat garis finis yang digeser sepuluh meter ke belakang setiap kali pelarinya mendekat. Larinya terasa penuh semangat, tapi garis finis tidak pernah benar-benar tercapai.

Dua jawaban populer, dua-duanya keliru

Angkat topik ini di meja makan atau warung kopi, dan jawaban yang muncul biasanya terbelah dua. Kutub pertama terdengar bijak: “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.” Kalimat ini dicetak di mug, dikutip orang bijak, dan diucapkan seolah perdebatannya sudah selesai sejak ratusan tahun lalu. Kutub kedua membalik dengan sinis: “Yang bilang begitu cuma orang yang sudah kaya,” atau versi yang lebih gamblang, “Kasih saya satu miliar, saya tunjukkan dalam seminggu saya bahagia.”

Masalahnya, dua kutub ini sama-sama terlalu rapi untuk pertanyaan yang sebenarnya berantakan.

Kalimat “uang tidak bisa membeli kebahagiaan” paling sering diucapkan orang yang tidak pernah benar-benar kekurangan. Ia jarang keluar dari mulut ibu yang menghitung sisa uang di tanggal dua puluh, atau bapak yang menunda berobat karena ongkosnya. Bagi mereka, uang jelas berhubungan dengan kesejahteraan, bahkan dengan tidur yang nyenyak di malam hari. Sebaliknya, sindiran “yang bilang begitu cuma orang kaya” juga tidak bertahan lama di hadapan data. Peneliti Philip Brickman bersama koleganya pada 1978 mempelajari para pemenang lotere bernilai besar dan menemukan fakta yang mengejutkan: beberapa lama setelah kemenangan, tingkat kebahagiaan mereka kembali mendekati titik semula. Angka di rekening melonjak, tapi lantai kebahagiaannya tidak serta-merta naik mengikuti.

Jadi kalau kedua jawaban populer itu sama-sama goyah, jawaban yang sebenarnya apa?

Jawaban yang lebih jujur: berhubungan, tapi tidak sederhana

Buku ini berdiri di satu posisi yang mungkin terdengar kurang dramatis, tapi paling jujur: uang terbukti berhubungan dengan kesejahteraan, namun hubungannya tidak sederhana. Ini bukan sikap mengambang. Kesimpulan ini lahir dari puluhan tahun riset ekonomi dan psikologi yang akan kita telusuri bersama.

Bukti empirisnya berlimpah, dan beberapa nama sering muncul di awal percakapan. Ekonom Daniel Kahneman bersama Angus Deaton meneliti ratusan ribu responden di Amerika Serikat dan pada 2010 melaporkan bahwa rasa bahagia sehari-hari berhenti membaik di sekitar penghasilan 75 ribu dolar per tahun. Lalu peneliti Matthew Killingsworth (2021) memakai cara yang berbeda, mengecek suasana hati responden lewat ponsel secara acak sepanjang hari, dan menemukan kebahagiaan terus naik melewati angka itu. Pada 2023, dua peneliti yang hasilnya saling bertolak belakang itu akhirnya duduk bersama dan menyimpulkan sesuatu yang lebih halus: bagi sebagian besar orang kebahagiaan memang terus naik seiring penghasilan, tapi bagi kelompok yang paling tertekan secara finansial, kenaikan uang berhenti berkhasiat di satu titik.

Selain soal berapa angkanya, ada beberapa lapisan yang membuat hubungan uang dan kebahagiaan berliku:

  • Ada plateau. Kenaikan penghasilan tidak selalu menghasilkan kenaikan kebahagiaan dalam besaran yang sama. Semakin tinggi angkanya, semakin kecil efek tambahannya.
  • Ada relatifitas. Kita jarang menilai gaji dari angkanya saja. Gaji lima belas juta terasa enak, sampai tetangga sebelah memarkir mobil baru dan feed teman penuh foto liburan. Perbandingan sosial diam-diam mengubah batas rasa cukup kita.
  • Ada adaptasi. Mobil baru terasa luar biasa di bulan pertama, lalu diam-diam berubah menjadi alat transportasi biasa. Para psikolog menyebut pola ini adaptasi hedonis.
  • Ada cara membelanjakan. Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton (2008) menunjukkan bahwa orang yang membelanjakan uang untuk orang lain melaporkan kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding yang membelanjakannya semata untuk diri sendiri. Jadi bukan hanya berapa yang masuk, tapi juga ke mana uang itu pergi.

Empat lapisan inilah yang akan menjadi tulang punggung buku ini. Masing-masing punya bab sendiri, lengkap dengan bukti pendukung dan bukti yang justru menentangnya.

Dua pertanyaan, dua alat ukur

Perhatikan bedanya dua pertanyaan ini. “Berapa penghasilanmu?” punya jawaban yang presisi, tercetak rapi di slip gaji, bisa dihitung sampai rupiah terakhir. “Seberapa bahagia kamu?” tidak punya slip. Tidak ada alat yang membunyikan bunyi titik saat kamu merasa puas dengan hidupmu.

Ketidaksamaan inilah yang selama puluhan tahun membuat debat ini berputar di tempat. Satu pihak mengutip pengalaman pribadi, pihak lain membalas dengan pengalaman pribadi yang berbeda, dan tidak ada wasit. Ilmu masuk justru karena menuntun kita menyiapkan wasit itu: kuesioner yang teruji, pencatatan suasana hati secara langsung, dan data jutaan orang dari berbagai negara. Tanpa alat ukur, “apakah uang membeli kebahagiaan” hanyalah adu opini. Dengan alat ukur, ia menjadi pertanyaan yang bisa dijawab, dikoreksi, lalu dijawab ulang dengan lebih baik.

Buku ini bukan ceramah kaya atau miskin

Sekali lagi supaya tidak salah paham: buku ini tidak akan menyuruh kamu mengejar uang sekuat tenaga, dan juga tidak akan memuja kemiskinan sebagai jalan menuju hidup yang damai. Tugasnya lebih sederhana dan lebih jujur, yaitu menyodorkan peta bukti ilmiah dari ekonomi dan psikologi, lalu menyerahkan keputusannya kepadamu. Kamu yang menentukan posisi uang dalam hidupmu, buku ini hanya memastikan keputusan itu berdiri di atas fakta, bukan di atas kalimat mug.

Peta perjalanannya kira-kira begini:

  • Kita mulai dari alat ukurnya: bagaimana para ilmuwan menimbang sesuatu yang tidak punya satuan (bab 2).
  • Lalu kita lihat bukti korelasi antara pendapatan dan kebahagiaan (bab 3) dan kontroversi plateau 75 ribu dolar yang terkenal itu (bab 4).
  • Kita naik ke level negara lewat paradoks Easterlin (bab 5), turun lagi ke lingkungan sehari-hari dengan perbandingan sosial (bab 6) dan adaptasi hedonis (bab 7).
  • Kita masuk ke sisi yang jarang dibahas: kelangkaan finansial dan apa yang terjadi pada pikiran saat uang menipis (bab 8).
  • Bagian akhir kita habiskan untuk hal yang paling bisa kamu kontrol: pengalaman versus barang (bab 9), belanja prososial dan pengaturan waktu (bab 10), serta materialisme (bab 11).

Satu hal yang membuat buku ini berbeda dari blog motivasi: setiap klaim di sini bisa ditelusuri balik ke risetnya. Kalau buktinya kuat, akan kubilang kuat. Kalau buktinya berbelit dan saling bertentangan, kamu akan dibawa melihat pertentangannya, bukan disembunyikan.

Benang Merah

  • Pertanyaan “apakah uang membeli kebahagiaan” punya dua jawaban populer yang sama-sama terlalu rapi, dan keduanya sama-sama keliru.
  • Posisi buku ini: uang memang berhubungan dengan kesejahteraan, tapi hubungannya berliku karena ada plateau, perbandingan sosial, adaptasi, dan perbedaan cara membelanjakan.
  • Membahas hubungan ini secara serius butuh alat ukur, karena “seberapa bahagia kamu” tidak tertulis di slip gaji.
  • Buku ini bukan nasihat kaya atau miskin, melainkan peta bukti ilmiah yang menyerahkan keputusan akhir kepadamu.

Tapi sebelum kita menakar seberapa besar pengaruh uang, ada soal yang lebih dulu mengganjal: kebahagiaan itu sebenarnya diukur dengan apa, kalau ia tidak pernah punya satuan seperti kilogram atau rupiah? Bab berikutnya mengajakmu masuk ke dapur para peneliti, tempat perasaan manusia ditimbang dengan kuesioner teruji, aplikasi ponsel, dan jutaan data.