Keyboard shortcuts

Press or to navigate between chapters

Press S or / to search in the book

Press ? to show this help

Press Esc to hide this help

Berperan bagi Dunia: ‘Apa yang Dibutuhkan Dunia’

Dalam perjalanan menemukan Ikigai, salah satu pilar penting adalah memahami elemen ‘Apa yang Dibutuhkan Dunia’. Memahami elemen ini berarti mengenali masalah yang ada sekaligus menemukan titik temu antara keahlian dan minatmu dengan kebutuhan mendesak di sekitarmu. Ini merupakan panggilan untuk berkontribusi secara nyata.

Ikigai sering kali ditemukan pada titik temu antara gairah pribadi dan seberapa jauh kita bisa bermanfaat bagi orang lain.

Mengidentifikasi Masalah dan Kebutuhan di Masyarakat

Langkah pertama untuk berperan bagi dunia adalah secara aktif mencari tahu dan menyelami berbagai tantangan di dalam komunitasmu. Skalanya bisa beragam, mulai dari masalah harian di lingkungan tempat tinggal hingga isu global yang berdampak luas.

Jangan langsung berasumsi mengenai apa yang dibutuhkan orang lain. Sering kali, apa yang tampak jelas di permukaan bukanlah akar masalah yang paling mendesak atau sesuai dengan kapasitasmu untuk diselesaikan. Mengidentifikasi kebutuhan secara tepat sasaran akan memastikan bahwa setiap upayamu benar-benar relevan. Saat kamu berhasil menciptakan perubahan positif yang nyata, dampak tersebut secara otomatis menjadi sumber motivasi berkelanjutan. Ujungnya, kamu akan lebih mudah menyelaraskan kebutuhan dunia tersebut dengan apa yang kamu cintai dan kamu kuasai.

Metode Riset dan Observasi

Agar tidak salah sasaran dalam mengidentifikasi kebutuhan, diperlukan proses riset dan observasi yang terarah.

Riset Sekunder

Riset sekunder melibatkan pengumpulan serta analisis data yang sudah ada sebagai titik awal untuk memetakan masalah secara umum. Kamu bisa memanfaatkan berbagai sumber data yang tersedia secara publik. Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), kementerian, atau organisasi nirlaba seperti PBB, UNICEF, dan WHO sangat berguna untuk melihat gambaran makro seperti tingkat kemiskinan dan kesehatan masyarakat. Selain itu, artikel berita, jurnal akademik, hingga diskusi di media sosial dan forum komunitas juga menyimpan informasi penting mengenai isu sosial terkini. Kajian mendalam mengenai keberhasilan maupun kegagalan program sosial pada masa lampau bisa memberi pelajaran berharga.

Sebagai gambaran, jika kamu tertarik pada ranah pendidikan, mulailah dengan mencari data terkait tingkat putus sekolah di wilayahmu atau kesenjangan akses internet. Dari sana, kamu mungkin akan menemukan fakta pendukung yang menunjukkan bahwa banyak siswa pedesaan kesulitan mengikuti pembelajaran daring murni karena kendala infrastruktur jaringan.

Observasi Lapangan

Riset primer mengandalkan observasi langsung ke lapangan untuk mengamati perilaku, interaksi, dan kondisi lingkungan komunitas secara organik. Cara ini akan memberikan konteks kehidupan nyata yang sering luput dari tabulasi data statistik.

Dalam praktiknya, kamu bisa memilih untuk terlibat penuh dengan melakukan observasi partisipatif, misalnya dengan menjadi tenaga sukarela di panti asuhan, atau sekadar mengamati dari luar melalui observasi non-partisipatif seperti mencatat pola kemacetan lalu lintas di persimpangan jalan padat. Saat melakukan pengamatan, pastikan kamu membuat pencatatan lapangan secara rinci. Penggunaan rekaman visual maupun sketsa pemetaan spasial juga bisa membantu mendokumentasikan temuan riil, selama kamu sudah mengantongi izin dari pihak yang bersangkutan.

Misalnya, saat menelusuri masalah pengelolaan sampah, kamu bisa berjalan keliling perumahan pada jam berbeda untuk melihat langsung lokasi tumpukan sampah liar. Kamu juga bisa ikut turun tangan membersihkan lingkungan bersama warga setempat sambil berbincang ringan dengan petugas kebersihan. Lewat pengamatan tersebut, kamu mungkin menemukan akar persoalan yang sebenarnya—entah itu karena jadwal pengangkutan sampah yang tidak teratur, atau semata karena kurangnya kesadaran kolektif dari masyarakat di area tertentu.

Berempati terhadap Orang Lain

Memiliki data dan hasil observasi saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan empati. Empati mengharuskan kamu menempatkan diri pada posisi orang yang terdampak, melihat dunia dari kacamata mereka, dan ikut menyelami kesulitan yang sedang mereka jalani. Tahap ini sangat penting untuk merancang solusi yang sesuai dan tepat sasaran. Perlu diingat bahwa empati sangat berbeda dengan simpati; simpati cenderung memunculkan rasa kasihan, sementara empati menuntut keterlibatan emosional untuk berbagi perasaan yang sama.

Ada beberapa pendekatan yang bisa diterapkan untuk menajamkan rasa empati. Wawancara mendalam memungkinkanmu untuk menggali narasi pengalaman personal individu terdampak tanpa adanya nuansa penghakiman. Jika kamu ingin menangkap ragam perspektif, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dapat memancing berbagai dinamika kelompok dan isu baru yang sering kali tersembunyi.

Kamu juga bisa menggunakan empathy map (peta empati) untuk memvisualisasikan elemen thinks & feels, says, does, hears, dan sees dari keseharian mereka. Alat ini mempermudah identifikasi rasa frustrasi (pains) hingga harapan hidup yang ingin mereka rengkuh (gains). Sebagai contoh, dalam permasalahan air bersih, pemetaan ini bisa membongkar kecemasan harian seorang ibu rumah tangga yang khawatir anak-anaknya jatuh sakit akibat mengonsumsi air yang tidak higienis.

Langkah yang paling mendalam adalah metode immersion atau terjun ke dalam rutinitas keseharian mereka. Kehadiran fisikmu di tengah komunitas tersebut, seperti ikut membajak sawah bersama para petani gurem, akan menjalin ikatan batin yang jauh lebih erat ketimbang sekadar melempar daftar pertanyaan.

Menciptakan Solusi untuk Petani Lokal

Misalnya, kamu mendapati bahwa banyak petani sayur merugi karena harga jual anjlok saat masa panen. Kamu bisa memulai penelusuran melalui analisis terkait fluktuasi harga komoditas dan struktur rantai pasok. Dari situ, tampak bahwa para petani ini sangat bergantung pada tengkulak karena ketiadaan akses mandiri ke pasar yang lebih luas.

Berbekal informasi awal tersebut, kamu turun mengamati pola interaksi jual-beli di pasar induk saat pagi buta. Kamu juga menyempatkan diri mendatangi beberapa lahan pertanian, dan akhirnya menemukan banyak hasil bumi membusuk karena minimnya fasilitas penunjang.

Ketika kamu duduk berbincang santai dengan salah seorang petani, ia secara terbuka mengeluh bahwa tengkulak memang sering mematok harga rendah, tetapi hasil jerih payahnya bisa segera terjual tanpa repot. Dari sini kamu dapat melihat raut kelelahan sekaligus kepasrahan karena himpitan beban ekonomi. Ia merasa resah menatap kenyataan bahwa generasi muda lebih memilih merantau menjadi buruh pabrik di kota karena sektor pertanian dirasa sudah tidak menjanjikan. Pada akhirnya, kamu menyadari bahwa permasalahan utama mereka bukanlah soal intervensi harga. Mereka jauh lebih membutuhkan akses pendistribusian panen yang memadai, keterbukaan informasi bagi pihak desa, serta dukungan fasilitas pengawetan bahan pangan.