Menunda Itu Bukan Malas
Pukul sepuluh malam. Laporan yang tenggatnya besok pagi itu masih berupa dokumen kosong dengan satu baris judul saja. Sejak sore kamu sudah membukanya tiga kali, dan setiap kali kamu menutupnya lagi untuk membalas pesan, merapikan folder unduhan, atau menonton satu video “sebentar saja”. Kamu tidak sedang santai. Dadamu agak sesak, kepalamu penuh, dan kamu tahu persis apa yang harus dikerjakan. Kamu juga tahu bahwa besok pagi kamu akan menyesal.
Orang di sekitarmu mungkin menyebut ini malas. Kamu sendiri mungkin ikut memakai kata itu, lengkap dengan nada menghakimi. Bab ini mengajak kamu menimbang ulang label tersebut, karena label yang keliru cenderung melahirkan solusi yang keliru. Kalau masalahnya dianggap kemalasan, jawabannya terdengar seperti “paksa dirimu”, dan jawaban itu jarang menyentuh apa yang sebenarnya terjadi di kepalamu.
Definisi yang dipakai para peneliti
Steel (2007) menganalisis 691 korelasi dalam meta-analisisnya tentang penundaan, dan dari sanalah definisi yang paling sering dikutip berasal:
“To procrastinate is to voluntarily delay an intended course of action despite expecting to be worse off for the delay.”
Terjemahan yang setia kira-kira begini: menunda berarti menangguhkan, secara sukarela, tindakan yang sebenarnya sudah kamu niatkan, padahal kamu memperkirakan dirimu akan lebih buruk keadaannya akibat penangguhan itu. Ada tiga unsur di dalamnya. Penundaannya sukarela, artinya tidak dipaksa keadaan. Tindakannya diniatkan, artinya kamu memang mau melakukannya. Dan kamu mengharapkan rugi, artinya sebagian dirimu sudah menghitung bahwa menunda itu tidak menguntungkan.
Ketiga unsur itu menjelaskan kenapa pengalaman menunda terasa begitu aneh dari dalam. Kamu tidak bingung soal apa yang benar. Kamu hanya tidak melakukannya.
Beda dengan malas, prioritas, dan penundaan strategis
Kata “menunda” sering dipakai untuk berbagai hal yang sebenarnya berbeda. Tabel berikut merangkum perbedaannya menurut unsur-unsur definisi tadi.
| Jenis | Niat mengerjakan | Menunda dengan sadar | Mengharapkan hasil lebih buruk |
|---|---|---|---|
| Menunda (prokrastinasi) | Ada | Ya | Ya |
| Malas | Tidak ada | Tidak ada tindakan yang ditangguhkan | Tidak |
| Memprioritaskan | Ada | Ya, karena ada urusan yang lebih penting | Tidak, hasil keseluruhan diperkirakan lebih baik |
| Penundaan strategis | Ada | Ya, dengan perhitungan | Tidak, menunggu justru membantu |
Tabel ini rangkuman konseptual dari penulis berdasarkan definisi Steel, bukan klasifikasi baku dari satu makalah tertentu.
Orang yang malas pada dasarnya tidak punya niat untuk bertindak, jadi tidak ada yang bergejolak di dalam dirinya. Penunda justru sebaliknya: niatnya ada, dan itulah sumber rasa bersalahnya. Memprioritaskan juga lain lagi. Misalnya, kamu menggeser penulisan laporan karena atasanmu meminta pekerjaan darurat yang lebih mendesak, dan kamu yakin pilihan itu masuk akal. Tidak ada penyesalan yang diantisipasi di sana.
Klingsieck (2013) menambahkan satu pembeda lagi. Dalam telaahnya atas riset empat dekade, ia memisahkan penundaan dari penundaan fungsional yang ia sebut strategic delay. Bayangkan kamu sengaja menunda membalas email yang sedang memanas sampai emosimu reda, atau menunggu data terbaru sebelum menulis analisis. Menunda itu sah, bahkan bijak. Ciri yang membedakannya adalah arah akibatnya. Klingsieck mencatat bahwa penundaan yang sejati sering berdampak negatif pada performa dan kesejahteraan subjektif; itulah yang membuatnya layak dibedakan dari penundaan yang disengaja demi hasil yang baik.
Seberapa umum, dan kenapa bukan soal jadwal
Kalau kamu merasa sendirian dalam hal ini, angkanya berkata lain. Rozental dan Carlbring (2014), dalam tinjauan naratif mereka, menyebut penundaan memengaruhi sekitar seperlima orang dewasa dan separuh mahasiswa. Anggap itu gambaran kasar dari sebuah tinjauan, bukan hasil sensus. Tinjauan yang sama mengaitkan penundaan dengan kesehatan mental yang lebih buruk dan dengan kebiasaan menunda berobat, jadi dampaknya merambat jauh dari urusan tugas kuliah atau pekerjaan.
Banyak orang menanggapi masalah ini dengan membeli planner baru atau mengunduh aplikasi pengatur waktu. Para peneliti memakai kerangka yang berbeda. Sirois dan Pychyl (2016), dalam buku suntingan tentang penundaan, kesehatan, dan kesejahteraan, memandang penundaan sebagai kegagalan regulasi diri, terutama regulasi keadaan emosi, dan tidak berhenti pada persoalan manajemen waktu. Judul makalah Steel (2007) sendiri memakai istilah serupa, quintessential self-regulatory failure.
Alasannya masuk akal kalau kita lihat apa yang ditemukan Steel. Prediktor yang kuat dan konsisten dalam meta-analisisnya antara lain task aversiveness (betapa tidak enaknya sebuah tugas), self-efficacy (keyakinan bahwa kamu sanggup), impulsiveness, serta conscientiousness beserta fasetnya seperti kontrol diri dan kemampuan mengorganisasi. Sebaliknya, neuroticism hanya berkaitan lemah. Semua itu temuan korelasional, jadi kita membacanya sebagai pola, bukan sebagai bukti sebab-akibat. Namun polanya jelas: daftar itu penuh soal perasaan terhadap tugas dan kemampuan mengendalikan diri, sedangkan jadwal tidak tampak di dalamnya. Misalnya, planner yang tersusun rapi tidak banyak menolong ketika kamu duduk di depan tugas, rasanya tidak enak, dan godaan yang lebih ringan sedang menunggu di ponsel.
Perlu dicatat juga bahwa hasil Steel konsisten dengan temporal motivation theory, perpaduan teori ekspektansi dan diskonto hiperbolik, yang akan menjadi tulang punggung bab-bab berikutnya.
Peta perjalanan kita
Buku ini bergerak dari penjelasan ke tindakan. Setelah bab ini, kamu akan berkenalan dengan persamaan motivasi dalam temporal motivation theory, lalu dengan cara kerja preferensi waktu: kenapa hadiah yang jauh terasa kecil dan kenapa diri masa depan terasa seperti orang lain. Sesudah itu giliran emosi dan stres, ketakutan gagal dan perfeksionisme, serta jejak genetika yang perlu dibaca dengan hati-hati. Kita juga akan melihat biayanya bagi kesehatan dan tidur, lalu menutup dengan strategi yang diteliti, dari rencana jika-maka sampai welas diri.
Ringkasan
- Definisi Steel (2007): menunda adalah menangguhkan secara sukarela tindakan yang sudah diniatkan, padahal kamu memperkirakan dirimu akan lebih buruk keadaannya.
- Ada niat pada penunda, sedangkan orang malas tidak punya niat bertindak sama sekali.
- Memprioritaskan dan strategic delay (Klingsieck, 2013) sama-sama menunda, tetapi tanpa harapan rugi: yang pertama karena ada urusan lebih penting, yang kedua karena menunggu memang menguntungkan.
- Rozental dan Carlbring (2014) menyebut penundaan memengaruhi sekitar seperlima orang dewasa dan separuh mahasiswa, dan mengaitkannya dengan kesehatan mental yang lebih buruk serta penundaan berobat.
- Kerangka yang dipakai para peneliti adalah kegagalan regulasi diri (Sirois dan Pychyl, 2016), bukan kekeliruan mengatur jadwal.
Sekarang kamu punya definisi kerja dan alasan untuk berhenti menyebut dirimu malas. Yang belum kita punya adalah mekanismenya: apa yang sebenarnya terjadi di kepala saat tugas terasa jauh dan godaan terasa dekat. Bab berikutnya membukanya lewat persamaan motivasi dari temporal motivation theory.